Entah pemikiran ini lahir dari mana. Namun pementasan pejabat-pejabat di negeri ini memperlihatkan citra bangsa ini menurut saya menjadi menurut, merosot bahkan anjlok. Bangsa yang berbudaya, bangsa yang idiologis, bangsa yang bermartabat luntur termakan lumpuhnya moralitas anak bangsa negeri ini. Negeri bernama indonesia ini adalah salah satu negara yang dulu disegani, kini hanya menjadi negara bulan-bulanan kasus. Tak selesai satu permasalahan timbul permasalahan baru. Tak selesai satu isu, isu baru muncul lagi.

Tak selesai konflik baru, konflik yang lain bertambah lagi. Seolah Tuhan telah mengutuk warga negara ini menjadi penduduk yang hanya dapat menikmati kesengsaraan di tengah derita. Sudah derita ditambah pula dengan sengasara. Lengkaplah siksa hidup ini.
Pemimpin negara sebagai sosok yang haruslah menjadi tidak sekedar memimpin bangsa dan negara namun juga tauladan, telah pudar. Sosok pemimpin negeri ini tak disegani, mereka dianggap hanya seonggok orang yang sama dengan rakyat lainnya. Tidak salah memang, namun bukan berarti benar pula. Pemimpin yang baik tentu akan membawa orang-orang yang pimpinnya menuju kebaikan, sebaliknya tentunya. Dewasa ini tentu kita bisa menilai, apa dan siapa pemimpin kita. Mereka tak lagi menjadi sesosok tauladan bagi sekelompok rakyatnya, namun hanya dianggap sebagai orang biasa yang sekedar memimpin secara politis tidak lebih. Saya sebenarnya adalah salah satu rakyat yang masih mengidamkan Indonesia menjadi negara yang sempat disegani dengan sikapnya dulu, dihargai karena ideologinya dulu. Tentu kita semua masih ingat bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang pernah keluar dan masuk lagi dalam keanggotaan perserikatan bangsa-bangsa. Sikap yang tentunya tak bisa dianggap sebagai satu bentuk tindakan yang patut dihargai atas keberaniannya, namun pula disikapi menjadi sebuah bentuk ke”garang”an Indonesia di dunia. Sayangnya itu dulu, dan seingat saya itu terjadi ketika zamannya Soekarno. Namun semenjak rezim Soekarno runtuh dan kemudian digantikan menjadi rezim Soeharto, babak baru dari negeri ini lahir. Negeri yang semula mengharamkan modal asing mendominasi perusahaan-perusahaan di Indonesia, ketika zaman Soeharto dengan sigap mereka masuk dengan lahirnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing dan seingat saya itu adalah salah satu Undang-undang yang lahir cukup cepat dalam masa itu (berbeda dengan Undang-Undang Perkawinan yang perlu berpuluh-puluh tahun).
Terlepas dari siapa dan bagaimana cara memimpin negeri ini, Indonesia adalah negara yang kaya dengan hasil alamnya. Batubara, Minyak Bumi, Emas, Perak, Intan, Karet, Padi, dan masih banyak lagi. Namun padi contohnya, kenapa kita harus mengimpor beras dari luar negri ? Sebuah pertanyaan besar dari negeri yang mayoritas penduduknya merupakan petani (mungkin dulu, entahlah dengan sekarang). Kemudian batubara, minyak bumi dan gas alam, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil hasil tambang tersebut yang terbaik, namun kenapa bahan bakar minyak mahal ? Salah satu pertanyaan besar yang kemudian juga lahir.
Di negara ini banyak orang pintar, sayangnya orang-orang pintar tersebut lebih suka “mengurusi” yang bukan “urusan” mereka. Contoh yang saya lihat begini, baru-baru ini dihebohkan dengan isu 0-10 nya Indonesia melawan Bahrain yang memalukan Indonesia. Maaf, sampai-sampai seorang Presiden dengan sikapnya menyatakan kecewa dan ingin memperhatikan hal ini. Belum lagi, salah satu Komunitas yang ditayangkan di salah satu TV swasta di Indonesia yang basic-nya bukan persepakbolaan mengomentari hal ini ?
Nah sekarang dimana orang-orang yang berkompeten mengurusi hal ini? Orang-orang Indonesia ini terlalu banyak mengomentari masalah-masalah yang bukan bidang dia. Kenapa seorang BJ. Habibie, mantan Presiden Indonesia, tidak lagi mau melanjutkan jabatannya sebagai seorang Presiden dan turun ke partai politik ? Jawabannya satu, karena politik bukan ranah dia. Nah yang saya bingung adalah begini. Sekarang saya cukup banyak melihat dan memperhatikan artis-artis dan aktor-aktor Indonesia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, menjadi Bupati, menjadi Wakil Bupati, atau hanya sekedar mencalon dengan basic yang kadang mereka tidak punya. Dengan “maaf” bermodalkan ketenaran mereka, mereka mencoba “peruntungan”, seperti halnya main judi. Kalau dapat, ya menang, tapi kalau tidak, ya kalah. Selesai.
Belum lagi misalnya, kasus Antasari Azhar yang menurut saya banyak didominasi Politik ketimbang Hukumnya. Saya melihat indikasi ketidak beresan pelengseran Antasari selama menjabat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan isu ini sekarang tinggal kenangan bukan ? Apakah ada isu ini lagi disorot media ? Tidak, banyak pengalihan-pengalihan isu seperti ini.
Aneh, sumpah aneh sekali. Bingung dengan sejuta kebingungan. Saya beranggapan Indonesia ini adalah satu panggung komedi yang tidak lucu namun menyimpan misteri akan kelucuan yang sebenarnya. Beginilah negeriku, negeri dimana aku dilahirkan sebagai seorang warna negara Indonesia. Negeri yang melahirkan banyak orang-orang hebat namun tak juga berdampak terhadap carut-marutnya bangsa.
Sudahlah tak ada gunanya juga saya berkeluh kesah disini, hanya menambah beban dan sakit hatinya ibu pertiwi. Tanah air ini telah banyak menelan darah dan air mata. Namun sayang sekarang hanya dibayar dengan penghianatan yang berakhir derita untuk rakyat tercinta.
Beginilah Indonesia, carut marut. Negeri yang carut marut akan menghasilkan rakyat yang carut marut pula. Budaya yang sopan sirna disapu badai amarah. Sedikit kena senggol orang saja sudah emosi tingkat sepuluh. Luar biasa. Inilah Indonesiaku, dan aku adalah salah satu diantara berjuta rakyat Indonesia yang carut marut. Karenanya apa yang ku sampaikan disini juga salah satu bentuk dari carut marutnya catatan yang pernah kubuat. Sepertinya tulisan ini adalah salah satu gambaran bahwa negeri yang carut-marut melahirkan rakyat yang carut-marut juga, seperti saya.