Hidup itu Anugerah bagi mereka yang pandai bersyukur, dan derita bagi mereka yang terlalu banyak mengeluh, namun bukan apa-apa bagi mereka yang tidak bersyukur dan juga mengeluh. Namun setidaknya bagiku hidup itu penuh hikmah, selalu ada hikmah dibalik segala musibah yang ada, terlepas kita menyadarinya ataupun tidak. Semua tergantung kita.

Akhir-akhir ini, Ayah sedang sakit-sakitan. Gula darah yang menggerogori dagingnya yang kian mengurus membuatku terenyuh, namun sekaligus membuatku sadar bahwa hidup ini sulit. Perjuangan Ayahku untuk tetap hidup selalu membuatku kuat menghadapi segala keadaan ini, terlebih lagi pengorbanan Ibuku untuk tetap setia menjaga ayahku yang terbaring lemah membuatku tahu betapa hebatnya kekuatan cinta. Sebuah perjuangan sekaligus pengorbanan ku temukan diantara keadaan ini. Hal yang tidak pernah ku dapatkan di rumah ini semenjak ku lahir dewasa. Tuhan, inikah petunjukmu. Kadang, aku melihat langit. Ku pikir langit itu tinggi dan tak bertepi, namun tak mampu ku lama menengadah ke atas, dan tertunduk, namun ku lihat bumi hanya di kakiku. Begitu dekatnya ku dengan bumi (red, tanah). Inikah petunjukmu Tuhan ?
Selama ini ku mencoba menapaki hidup di lembah antah berantah, menyusuri sungai-sungai nan dalam, mengarungi danau-danau, mendaki pegunungan nan curam, namun belum pernah ku diperlihatkan dengan satu hal yang kau namakan Anugerah ? Deritakah ini?
Perjalanan memang tak pernah berujung, selama kita mampu untuk tetap berdiri dan berlari.
Kaki-kakiku kadang gemetar saat ku coba tegakkan badan untuk sesekali mencoba menghadapmu seraya berbicara, “Aku mohon petunjukmu Tuhan?” Memang, orang seperti aku tak pantas untuk dijawab. Namun… Setiap pertanyaan yang timbul dalam otakku selalu berakar dan tak pernah terhenti di satu titik pertanyaan yang dapat terjawab.
Entah, kata-kata apa lagi yang karus ku lontarkan, pun itu tak pernah ku sadari untuk menghentikan jemari ini menari-nari diatas keyboard laptopku. Biarlah dia menuliskan syair-syair yang direkam dalam otakku dan mengalir lewat darah-darah saraf menujur jemari.

Tulisan diatas adalah fiksi belaka, karena mau beli onthel kemahalan apalagi yang antik. Karenanya jangan dibaca bila tidak bisa membaca, dan jangan didengar orang tidak bisa membaca itu. Hahaha…